Written on
February 11, 2007 – 1:00 am | by siphe
“Ayah, ayah!”
Teriakan itu membangunkanku dari kegiatan yang aku lakukan sejak tadi. Aku pun segera mematikan kompor dan meletakkan soled pada wajannya. Aku segera melangkahlan kedua kakiku dengan cepat, membuka pintu dan masuk ke dalam sebuah kamar kecil tempat anakku berada. Masih terdengar teriakannya ketika aku memasuki kamarnya.
“Bangun! Bangun! Anisa, bangun!” Aku menggoyang-goyangkan tubuh anakku dengan kasar dan dengan suaraku yang lantang.
Anisa membuka matanya perlahan-lahan, entah melihat ekspresi wajahku dia langsung ketakutan. “Bunda, Bunda, maaf… Maaf, apa Anisa mengigau lagi. Maaf Bunda, Anisa hanya mimpi. Maaf, Bunda…”,segera duduk tubuhnya pun ke arah papan tempat tidurnya menjauh dariku yang sedang berdiri di samping tempat tidurnya. Suaranya pun gemetaran. Wajahnya seperti melihat dewa kematian, matanya kadang terlihat menutup seperti sudah bersiap bila ada yang mencabut nyawanya.
Melihatnya begitu pun, aku hanya menjewer telinganya sampai dia merengek kesakitan dan memohon ampun padaku. Telinganya pun memerah. Biasanya aku tidak segan-segan menampar pipinya, menyiramnya dengan air atau dengan sulak atau sapu lidi aku biasa memukulnya, bahkan kadang aku membuatnya jera dengan mengurungnya dalam kamar mandi berjam-jam. “Bunda kan sudah bilang berkali-kali! Jangan sebut-sebut yang Bunda ga mau denger walau cuma di dalam mimpi! Kamu cuma punya Bunda! Ayahmu sudah Bunda anggap mati, tau ga sih dia bajingan! Coba, dulu kamu mengenalnya saat kamu sudah bisa berpikir! Dia brengsek tau!” teriakku keras memekakkan telinganya.
“Capek Bunda sama kamu! Bangun sana, mandi! Jangan tidur terus! Bisa-bisa kamu mimpiin orang ga berguna itu lagi! Bantu Bunda di dapur kalo udah mandi.” Setelah melihat anggukan kecilnya aku pun segera keluar dari kamarnya.
Aku singgah ke kamarku dan terduduk lemas di tepi kasur. Aku heran mengapa pula anakku selalu memimpikan ayahnya ketika tidur Lagi-lagi aku tersadar bahwa tanpa kendali aku telah menyiksa anakku lagi. Entah ibu macam apa aku ini. Tapi, aku benar, aku tidak salah!. Ini semua salah ayahmu, Nak! Dia meninggalkanku dengan wanita lain, meninggalkanku di kontrakan ini. Meninggalkanku dengan hanya uang sepuluh ribu di tanganku. Meninggalkanmu pula yang masih berumur tiga tahun.
Bukankah seharusnya kamu menghargai pengorbanan ibumu yang membesarkanmu sendirian hanya dengan tidak menyebut-nyebut ayahmu? Apakah kamu tau bagaimana perjuangan ibumu ini? Untuk membayar kontrakan rumah pun, ibu harus membayar dengan tubuh ibu hampir tiap malam kepada pemilik rumah. Untuk memenuhi kebutuhan kita, ibu harus meminjam uang pada lintah darat dengan bunga yang tinggi. Tak jarang ibu menerima pukulan, atau membiarkan barang-barang yang tidak berharga pun ikut disita karena ibu tak mampu membayar utang.
Tapi kini dengan perjuangan keras ibu, ibu tidak perlu lagi membayar kontrakan dengan tubuh dan ibu tidak perlu lagi meminjam uang. Ibu sudah bisa menghidupi kamu walau tidak mewah dengan toko klontong, warung makan, dan gorengan di kontrakan ini tanpa mengenal lelah. Ini semua demi kamu.
Maafkan ibu, Nak. Ibu bukannya mau menjahati atau menyiksa kamu, ibu hanya ingin kamu tidak mengingat-ingat ayahmu itu. Dia sudah membuat ibu dan kamu susah. Tenang saja, Nak. Di ulang tahunmu yang ke sebelas nanti ibu akan membuatmu senang, ibu akan belikan baju yang kamu inginkan sejak kemarin walau kamu tidak bilang padaku kamu menginginkannya, tapi ibu tau dari matamu saat melihat baju di toko yang kita lewati saat hendak ke pasar. Ibu sayang kamu, Anisa.
Pikiranku lelah, lebih baik aku berbaring dulu di tempat tidur sebentar sebelum melanjutkan kerjaanku. Aku menghempaskan tubuhku pada kasur dan tertidur sejenak tanpa sadar.
***
Airnya terasa dingin. Benar-benar dingin. Rasanya tubuhku hampir membeku. Namun tetap saja rasa panas dan sakit di daun telingaku masih sangat terasa. Aku pun segera melepaskan handuk dan memakai baju bersih yang sudah cukup kumal setelah selesai dari kamar mandi.
Aku segera ke dapur setelah menyisir rambutku. Kosong. Aku pun melangkah ke arah kompor, menyalakannya, mengambil solednya. Bunda sepertinya tadi sedang menggoreng tahu isi sebelum Bunda ke kamarku dan membangunkanku. Masih baru. Belum cukup matang. Masih harus menunggu.
Apa Bunda sedang di kamarnya? Aku pun ke arah kamarnya, pintunya terbuka. Aku bersandar di tembok sebelah pintu sambil melihat wanita yang telah melahirkanku tertidur. Bunda selalu begitu. Tertidur pulas setelah bisa menyakitiku. Memangnya apa salahku? Bukankah wajar bila seorang anak mengingat ayahnya. Atau itu hanya alasan Bunda saja? Atau aku memang tidak diinginkan, atau aku menyusahkanmu? Bukannya selama ini aku sudah berusaha jadi anak yang baik? Aku tidak pernah meminta macam-macam pada bunda. Aku tidak pernah minta dibelikan baju yang aku sukai di toko itu, padahal anak lainnya pasti akan segera merengek dan menagis bila tidak dibelikan. Aku juga selalu membela bunda ketika ibu-ibu di kampung membicarakan hal jelek tentang bunda. Aku juga tidak malu menampakkan bekas merah tamparan atau pukulanmu pada teman-temanku karena aku pikir itulah tanda kasih sayangmu.
Tapi, sekarang aku makin ragu, bunda. Bunda setiap hari menyakitiku, menyiksaku. Bunda pasti tidak menyayangiku. Aku tidak kuat lagi bunda, bahkan air mataku pun sudah mengering, entah mungkin sudah habis karena sudah lelah tiap hari aku menangis karenamu. Maafkan aku bunda, tapi ini bukan salahku, ini semua salah bunda.
Aku pun berjingkat kecil ke arah meja kaca dan memungut dompet di atas meja itu. Aku pun mengambil tiga per empat bagiannya dan memasukannya dalam saku celanaku. Kembali berjingkat aku keluar dari kamar dan mengambil tas kecil satu-satunya yang aku punya dan memasukan satu pasang baju yang paling bagus di antara yang lainnya.
Pelan-pelan pun aku keluar dari rumah, memandang ke arah rumah sebentar, kemudian aku pun berjalan cepat keluar rumah. Sedikit aku ketakutan. Tapi aku juga tidak mau ketakutan setiap hari di dalam rumah.
Bunda, aku memang bukan anak berbakti, tapi bundalah penyebabnya. Aku akan pergi mencari ayah. Ayah pasti merindukanku. Mungkin ayah juga mempunyai alasan yang sama denganku hingga sampai saat ini pula aku tidak bisa bertemu dengannya.
Ayah aku akan mencarimu. Aku pasti menemukanmu, aku punya fotomu, aku selalu mengingatmu walau tanpa sepengetahuan bunda.
Tak terasa, sepertinya dua jam lebih aku berjalan. Aku bingung harus kemana. Sudah hampir gelap. Sudah aku gunakan sebagian uangku untuk membeli roti dan minum. Ternyata bukan hal yang mudah mencari ayah untuk anak kecil seperti aku. Tiap orang yang kutemui mengatakan tidak pernah melihat ayahku. Aku menjadi ragu untuk terus mencari. Aku tidak bisa begini terus, aku tidak punya tempat tinggal.
Baiklah, aku harus kembali ke rumah. Walau mungkin bunda sudah menungguku untuk memukulku atau mengurungku atau mungkin saja aku bisa dibunuhnya kali ini. Aku memang takut. Tapi aku hanya punya uang lima belas ribu rupiah di tangan.
Kembali aku berjalan lunglai ke arah rumah dengan tetap menyimpan harapan menemukan ayahku di perjalanan pulang. Nihil. Sebentar lagi aku pasti sampai rumah, ini sudah melewati rumah Pak Dul yang jaraknya lima belas rumah dari rumahku. Aku berhenti sejenak. Aku takut. Aku bimbang.
“Anisa, Anisa! Kamu dari mana?” Tiba-tiba Pak Dul datang sambil memegangi pundakku, wajahnya terlihat cemas dan berkeringat. Aku pun kaget dan bingung. Jangan-jangan bunda kasih tau orang sekampung kalau aku kabur dan mencuri uang bunda.
“Anisa, rumahmu, Anisa! Rumahmu kebakaran! Ibumu, Anisa. Ibumu masih di dalam!” serunya cemas. Mataku menatap air muka Pak Dul berharap dia sedang berbohong atau mengerjai aku. Masih tidak percaya namun aku pun harus percaya melihat ember penuh air di sampingnya. “Ibumu sepertinya uda ga bakal tertolong, Nak!” Aku terpana dan baru sadar bahwa orang-orang di sekitarku berlarian dengan ember dan kain-kain kumal tebal untuk memadamkan api.
Aku bingung, aku pusing, aku kehilangan pikiranku untuk sementara dan terdiam sebentar sebelum memutuskan untuk berlari ke arah rumah. Tunggu, apa ini salahku? Aku ingat kompor pun belum sempat aku matikan saat tadi aku pergi. Bunda! Bunda! Apa aku yang membunuhmu? Atau mungkinkah ini memang sudah takdir dan nasibmu sebagai balasan kamu melukaiku tiap hari? Ini bukan salahku, aku bukan pembunuh pula, aku tidak sengaja, ini takdirmu! Ini takdirmu karena dosamu padaku! Tapi Bunda, bukan seperti ini mauku! Bunda, jangan pergi dulu!
Posted in cerpen, atau apapun itu | No Comments »