Katanya


Written on November 1, 2008 – 3:15 pm | by siphe

Dia, perempuan itu, sudah lelah. Dia mengatakan padaku berkali-kali, bahwa tidak akan lagi. Dia ingin seperti kaktus yang tak membutuhkan siraman air, ia ingin hidup tanpa perlu menunggu hujan, ia tak mau menggantungkan kehidupannya pada setitik airpun. Baginya tidak akan tenang hidup sebagai bunga walau indah bermahkota karena hatinya akan ketakukan dan selalu bertanya-tanya, kapan musim kemarau akan berakhir, kapan pemiliknya akan mengarahkan semprotan air yang tak berlebihan atau apakah dirinya akan mati segera karena petikan yang memutus batang hijaunya. Karena setelah itu warna cerah dan ceria akan berubah menjadi kehitam-hitaman dan membusuk segera, melebur bersama tanah, sia-sia.

Tanah itu tidak akan peduli bahwa bunga itu dahulu telah hidup dengan bantuannya, karena ketika bunga itu terhempas di tempatnya dia tak akan membantunya untuk kembali hidup.

Baginya yang terlihat indah tidak selalu menyenangkan. Perempuan itu selamanya akan menjadi kaktus berduri tajam, sendiri di gurun pasir, atau sendiri pada potnya, tanpa beban.

Begitu katanya padaku. Aku tak bertanya lagi mengapa begitu. Baginya hidupnya dan bagiku hidupku.

CANTIK


Written on October 6, 2007 – 1:59 am | by siphe

Parasnya elok menawan, dilengkapi mata bulat hitam dengan pandangan lembut. Tak kalah mempesona adalah bibir merah segar serta hidung mancungnya yang sempurna. Mahkotanya lurus hitam terawat, belum lagi ditambah kulitnya yang putih seperti kapas. Nilainya semakin tinggi dengan lekukan tubuh yang sempurna. Berhasil sudah perempuan itu mempesona banyak mata untuk tidak berkedip memperhatikan dirinya. Banyak pria mungkin tak mampu menahan air liurnya. Begitu pula aku, tak berhenti memandangnya.

Jutaan kilometer dan perjalanan telah aku tempuh, puluhan kota sudah aku singgahi dengan puluhan perempuan kupeluk tanpa perlawanan, namun tak ada yang seindah perempuan ini.

Dengan terusan berwarna merah yang menggairahkan dan sepatu hak tingginya yang memperlihatkan kaki jenjangnya yang indah, ia berjalan. Langkahnya pasti. Di sampingku ia berhenti dan meletakkan pantatnya di sebelahku. Wangi tubuhnya membuatku mabuk kepayang, membuatku tak mampu menahan diri.

Ingin kuberbicara padanya namun sampai-sampai mulutku ini terkunci tak mau membuka. Kupandangi terus gadis itu, tanpa kedip. Matanya pun menatapku. Tak henti. Beruntung diriku mendapatkan tatapan dari seorang gadis elok rupawan seperti dirinya.

Aku tak mengerti mengapa tak satu kata dapat terucap, padahal momen seperti ini adalah tak mungkin terjadi kedua kalinya. Bodohnya diriku, kukutuki diriku sendiri dengan kesal, dalam hati.

Masih gadis itu memandangku, dan tanpa disangka, kedua tangannya yang beraksesoriskan gelang itu sudah memelukku. Dua kancing bajunya serta dadanya yang berisi dan bulat dapat kurasakan. Aliran darahku mengalir deras dan berpusat pada satu titik. Ah, ingin aku ikut memeluknya. Namun rupanya tak bisa aku membalas pelukannya, entahlah, kebodohanku rupanya semakin bertambah. Mungkin karena masih tak dapat kupercaya betapa agresifnya gadis ini.

Oh, Tuhan, biarkan gadis ini memelukku begitu lama, namun bagaimanapun aku menunggu kelanjutannya, entah dengan kecupan hangat dari bibir delimanya atau dirinya tanpa terusan merah itu yang dapat membuatku tergila.

Gadis itu masih memelukku, sudah tak sabar diriku. Namun, kini mulai terdengar suaranya dengan tersedu tertahankan. Kubayangkan pipinya yang menggemaskan kini basah oleh air matanya. Tak dapat kudengar jelas kata-katanya. Kini bibirnya yang kunantikan telah menyentuh daun telingaku, dan  berbisiklah dia dan kudengar jelas.

“Ayah…”

Tak mengerti apa maksud dia memanggilku “ayah”. Kudengarkan lagi bisikannya dengan cermat, “Ayah… Jangan tinggalkan aku, Ayah. Bertahanlah. Maafkan anakmu yang durhaka ini. Yang tak merawat ayah ketika sakit keras..”

Isak tangisnya terdengar keras di telingaku.

Ya, Tuhan, hampir saja aku lupa memiliki anak secantik dirinya, hampir dua tahun aku tak bertemu dengan anakku ini. Betapa bertambah cantik dirimu, Nak. Ah, betapa hebatnya aku mempunyai keturunan sesempurna dia. Kutatap dia lamat-lamat.

“Aku sayang, ayah..”katanya lagi tetap dengan tangisnya yang  menggenangi matanya yang mirip dengan mataku.

Tak mampu aku membalas kata-katanya. Bibir dan mulutku sudah kehilangan fungsinya, tak mampu sejak lama kuberbicara. Tubuh pun tak mampu kugerakkan dengan leluasa lagi. Berbaring di tempat tidur, hanya dengan tetes air mataku, aku menjawab.

HABIS SUDAH IMAJINASI


Written on September 29, 2007 – 4:32 am | by siphe

Sudah lama Janah tidak duduk merenung dengan peluh di dahinya merembes turun sampai hilang sendiri oleh potongan kain yang menutupi auratnya. Pandangnya dalam menunduk, namun seperti tidak konsisten lehernya bergerak naik dan dan matanya bersinar, berubah, setelah menghela nafas panjang dan dadanya melonggar, bahunya pun telah turun yang semenjak tadi terlihat tegang.

berdiri menjauhi kursi. Pikirannya yang sesak telah mencair perlahan seiring dengan semangatnya yang kembali bermunculan, setelah semenjak tadi wajahnya merah padam menahan diri.

Dengan berdalih “hal yang manusiawi”, dia berpikir bahwa emosi yang semenjak tadi ia tahan adalah hal yang sangat wajar. Kalau saja Janah tidak merasa bahwa dirinya sedang diuji Tuhannya, maka sesungguh tidak perlu ia tampung hal yang kala tadi dan dalam seminggu ini memenuhi ruang di dadanya.

Tiba-tiba seminggu ini dia bisa jadi sangat lelah oleh banyak kepentingan, dan bukan kepentingan dirinya sendiri rupanya. Janah harus menyadari bahwa tenaganya dimanfaatkan tanpa peduli dengan dalih sebuah penderitaan yang tak jelas benar adanya. Janah tak diberi kesempatan untuk meregangkan kakinya, merentangkan tubuhnya dan menutup mata walau hanya lima jam saja,

Ada pula kemudian ia harus tahu bahwa teman terbaik pun terkadang harus membuatnya menghentikan degup jantungnya untuk sesaat karena telah mencoret sembarangan arti dari pertemanan itu sendiri.

Kini kakinya mulai lelah menahan berat tubuhnya yang ringan. Mungkin bukan karena berat tubuhnya, namun karena kakinya yang sudah tak ada lagi tenaga untuk menahan segala beban. Tubuhnya terjatuh teratur mengikuti struktur tembok. Kini terlihat dirinya terduduk pada lantai yang berdebu. Terlalu capai, tanpa sadar ia sudah tertidur tanpa daya di lorong sunyi itu sendiri.

Janah, perempuan cerdas bernasib sial.

TAK MAU SATU


Written on September 29, 2007 – 4:13 am | by siphe

Aku rindu. Berlebihan dan membara. Dalam hanya satu tatap menghancurkan, pembawa derita dan gelisah di hati. Satu senyum, satu sentuhan pada telapak kananku. Satu ingatan yang mampu membinasakan hari-hariku yang sebelumnya adalah sedih tak kunjung reda. Bahkan membuatku tak berdaya dan setengah mati penasaran menanti dan menunggu. Entah apakah ini lebih baik ataukah tidak kalah buruk.

Beberapa menit tak sampai lima mampu membuat berbulan hati tak tentu, emosi meluap tak tentu arah. Tak mampu tidur dengan tenang bilakah bisiknya tak kunjung datang menghantar redupnya malam, matinya hari yang telah kusinggahi. Tak habis waktu tanpa penantian, penasaran memuncak mencapai tebingnya.

Berbulan sudah, sirna masanya merenggut jiwaku. Habis pula ingatanku pada waktu yang begitu cepat, lima menit yang tadinya mampu mengeringkan lukaku dalam sekejap Mengikis perlahan-lahan, menghilang bagai dimangsa bumi. Kembali pada masa yang lewat, lagi pada sakitnya jiwa, berulang pada harapan yang sia-sia. Menatapnya setelah sekian lama kutinggalkan pada harapan yang lebih berarti kukira. Mengenangnya setelah berbulan hanya mengingat lima menit tak sampai yang rupanya kini sudah tenggelam tak terselamatkan.

Tak perlu berlama bertahan karena aku semakin muak, lebih membahagiakan rupanya bila kulepas. Tak berguna, tak menguntungkan sedikit pun. Membuang waktu, habis tenaga untuk berpikir. Seperti halnya sekolah, tak perlu berlama-lama bila sampai dua belas tahun tetap tak mengerti arti kata anarkis, kolonial, dan sebagainya. Tak butuh menghabiskan waktu menuntut ilmu, bila terus menghafal, tanpa dipahami, tanpa bisa menggunakan logika dalam berfikir.

Lima menit tak ada artinya lagi. Begitu pula bertahun. Bagiku bukan lagi waktu. Namun peluang.

Tak mau lagi satu, namun kini menjadi tiga atau lebih. Kalau perlu sepuluh sekalian. Atau lebih baik sama sekali tidak bila hanya satu.

NAMANYA MURTI


Written on March 10, 2007 – 8:33 am | by siphe

Namanya Murti. Itu nama lengkapnya. Tidak ada nama belakang apalagi nama tengah. Dengan memberi nama itu, kedua orang tuanya berharap anaknya itu menjadi seorang wanita yang unggul di lingkungannya kelak. Murti merupakan bahasa jawa yang sama artinya dengan unggul. Namun, beranjak remaja Murti mengganti nama panggilannya menjadi ‘Putri’, tidak jauh berbeda memang dari nama aslinya. Tapi, dia akan membenci setengah mati bila ada yang memanggilnya dengan nama aslinya. Dia akan melirikkan matanya ke sudut matanya, seperti penari bali dengan pandangan mengerikan bila mendengar nama murti keluar dari mulut siapapun itu.

Murti malu pada namanya yang serba singkat lagi ndeso menurutnya. Dia benci pada kedua orang tuanya yang memberikan nama itu. Murti memang tumbuh menjadi gadis yang cantik dan menarik bagi kaum adam bahkan kaum hawa pun akan ikut terpesona. Dia pikir nama aslinya sangat tidak cocok dengan pribadinya yang sudah maju dan modern. Maka dengan menangis dan meraung-raung tanpa malu, ia meminta orang tuanya mengurus penggantian namanya. Bahkan dia sempat mengancam minggat dan bunuh diri bila keinginannya tidak dipenuhi.

Akhirnya, dengan berat hati kedua orang tuanya menguruskan penggantian nama untuk Murti daripada harus kehilangan anak perempuan satu-satunya. Namanya pun segera berubah menjadi Ifilia Putri sesuai mau Murti,…bukan, maksud saya Putri. Walau sebenarnya ia menginginkan double l pada nama depannya. Tapi, dia sudah cukup senang karena telah berhasil mengangkat harkat dan martabatnya dengan nama yang menurutnya lebih keren dan gaul.

Tanpa perlu menyebarluaskan pada teman-temannya, buku absen di kelas sudah membuat teman-teman sekelasnya merasa kelasnya kedatangan anak baru yang ternyata si Murti itu sendiri yang berganti nama. Dan bila Putri melihat ada daftar yang memuatnya dengan nama lamanya ia akan mencoret-coret nama lamanya sampai tidak kelihatan sama sekali, lalu digantilah dengan nama Ifilia Putri. Dia pun tidak keberatan bila teman-temannya memanggil dengan nama depannya, Ifilia, Ifil, atau Filia. Karena menurutnya nama depannya sangat bagus. Asal jangan pernah ada yang memanggilnya dengan nama Murti, dia tidak akan menengok dan bisa saja membenci seumur hidup atau melakukan kejahatan kecil pada si pemanggil.

Putri sudah tumbuh jauh lebih dewasa dan tetap dengan wajah cantik. Tapi, orang tuanya sudah mengerti dan sadar bahwa mungkin memang takdir bahwa nama anaknya itu berubah. Karena tidak seperti nama lahirnya, Murti yang telah berubah menjadi Putri pun bukanlah anak yang unggul dan menonjol. Putri memang cantik, tapi di sekitarnya pun banyak yang lebih cantik dan pintar.

Orang tuanya yang sudah belajar sedikit bahasa inggris pun akhirnya menyadari nama yang dipilih anaknya saat itu mencerminkan keadaan Putri. Anaknya mungkin lebih jago memilih nama. Putri memang artinya anak perempuan. Lalu Ifilia? Melihat Putri yang bisanya hanya berdandan atau di rumah saja bengong dan menonton TV, mintanya macem-macem, menyusahkan orang tua, tak mau sekolah, kerja pun setengah hati, menurut mereka pun i disamakan saja dengan im adalah bahasa inggris yang artinya tidak, dan fill artinya isi. Bila digabung menjadi ‘tidak berisi’ dan mereka pun mengartikannya dengan ‘tidak berotak’. Anak perempuan yang tidak berotak.

Tapi, kemudian si ibu berpikir, bisa saja kalau dulu dia tidak menyetujui penggantian nama anaknya, si Murti itu bisa jadi anak yang benar-benar unggul, pintar, dan membanggakan. Yah paling-paling anaknya cuma minggat dalam waktu sebentar dan kembali ke rumah lagi. Mana berani dia bunuh diri. Entah apa yang harus disalahkan? Nama atau apa? Ibunya pun terbingung-bingung tak menentu berpikir tiada henti sambil menunggu anaknya dilamar entah berapa lama lagi.

CORET SAJA


Written on March 10, 2007 – 8:23 am | by siphe

Kukatakan bahwa aku lelah, capek, dan kesal. Tak berguna dan tak berarti pula tampaknya. Hujan tetap turun dan badai terus menyerang. Meruntuhkan berbagai harapan yang baru dibangun. Memporak-porandakan sampah yang hendak dibuang.

Tempat yang aman sudah berubah menjadi tempat yang berbahaya. Tempat yang tadinya penuh tawa dan canda pun menjadi tangis dan luka. Hangat telah menjadi dingin, sejuk pun berganti panas. Sudah kulewati dengan biasa hari-hari seperti itu. Semakin terbiasanya sampai-sampai aku semakin menyukai hari penuh bencana dan penderitaan. Terasa aneh bila tidak ada kabar yang mencekam dan mengiris hati banyak orang. Terasa ada yang hampa pula bila aku melihat keadaan adalah baik-baik saja.

Anehkah menyukainya? Bagaimana pun juga aku telah berusaha menghindar, tetap saja nasib mengatakan hal yang berbeda dengan mempertemukan aku dengan kenyataan pahit. Tidak hanya di depan rumah, tapi juga di setiap perjalanan. Apakah aku harus membenci nasib buruk itu? Bagaimana bisa membenci bila hari demi hari tidak terlewatkan satu pun berita di koran tanpa bencana. Apakah aku menyukai sesuatu yang salah? Bukankah kita harus belajar menyukai supaya tetap hidup?

Dan bukankah itu membuat kita belajar? Belajar untuk menghargai alam. Lalu kita akan berjalan dengan semangat baru yang tumbuh, walau kemudian hancur kembali. Setidaknya kita jadi mendekatkan diri pada-Nya. ‘-Nya’nya itu bisa Tuhanku, Tuhanmu, atau bahkan Tuhan yang masih dipertanyakan keberadaannya atau siapa sebenarnya Tuhan itu.

Ketika bencana mereda dan hilang dari hadapan suatu saat yang telah pasti, mungkin akan terasa hampa karena sudah terlanjur terbiasa dan menyukai, namun apakah dengan menghindar atau pun membenci rasa sakit dan luka pun akan langsung terobati?

Tanda tanya adalah untuk kalimat tanya. Dan aku benar-benar bertanya karena tidak tahu. Bukan karena ingin menguji atau menantang. Apa sih yang aku tau.

Entahlah, coret saja semuanya karena aku bahkan tidak bisa membedakan asam, manis, asin atau pun pahit, aku hidup pun  selalu terpenuhi. Sengsara dan derita belum sempat menyentuhku. Tidak pantaslah aku berkata. Menulis pun hanya pake dengkul. Maka hanya buih penuh bualan saja yang keluar dari mulutku karena makna adalah tidak sebenarnya pun seperti itu sungguhnya. (???)

MIMPI


Written on February 25, 2007 – 10:24 pm | by siphe

Ketika jangkrik berbunyi, udara dingin menyelimuti, sepi adalah bagiannya, dan kamu berbaring tanpa sadar dan terlelap oleh hening malam memburu waktu sampai kemudian lagi terdengar adzan berkumandang, dingin masih terasa, namun tidak kau dengar ayam berkokok karena kau tidak di desa, hanya suara kendaraan mulai terdengar, kau pun mulai membuka mata, menggerakan seluruh tubuhmu dan di saat itu aku akan bertanya padamu.

“Mimpi apa kamu tadi malam?”

“Ehm…Anu..,” kamu berusaha keras mengingatnya dengan dahi mengernyit dan mata tertutup.

“Mimpi apa?’ tanyaku lagi tidak sabar.

“Aku lupa,” katamu dengan ekspresi tidak berdosa dan benar-benar terlihat kamu menghentikan usahamu untuk mengingatnya.

“Kok bisa? Kamu

kan

baru saja bangun dari tidurmu,” tanyaku masih berharap kamu mengingatnya.

“Aku juga ga tau kenapa aku bisa lupa mimpiku. Mungkin tadi malam aku tidak bermimpi.”

“Ah, kamu bukannya tidak bermimpi. Kamu sih emang suka lupa.”

Kamu mengangkat kedua bahumu, menandakan ketidak tahuan.

“Kamu ini memang!” cemoohku,

“Lalu memangnya kamu sendiri mimpi apa?”

“Ehm…,” aku tidak menjawab pertanyaanmu. Mataku beralih ke arah langit-langit, menandakan aku ingat mimpiku namun ragu-ragu untuk mengatakannya padamu.

“Ya sudah kalau kamu ga mau cerita,” katamu merujuk membalikan badan.

Aku pun berdiam diri beberapa saat, menunggu kamu bertanya lagi seperti tadi aku berkali-kali menanyakannya padamu dengan antusias.

Tiga puluh detik.

Satu menit.

Dua menit. Ah, aku memang tidak sabar.

“Kok ga tanya lagi sih?”

“Lho, kamu berharap aku bertanya?” balik kamu bertanya seraya membalikkan tubuhmu.

“Iya.”

“Tadi kamu juga ga jawab. Kalo kamu emang ga mau jawab ya aku juga gapapa.”

“Uuhh. Sebel.”

“Ya udah emangnya kamu mimpi apa sih?” tanyamu seperti ayah yang menghadapi anaknya yang masih kecil dan susah diatur.

“Aku.., aku..,” aku diam, tapi tidak mengaruk-garuk kepalaku karena aku sudah keramas. Kamu menunggu.

Aku melanjutkan kata-kataku setelah diam beberapa saat.

“Aku mimpi kamu.”

“Aku bermimpi kamu yang tidak memimpikanku. Aku memimpikan kamu yang hanya sebuah ilusi dan khayalanku semata.” Kataku sambil menghapus bayang-bayangmu yang semenjak tadi menemani fantasiku, membiarkanmu meninggalkan aku sendiri.

METAMORFOSIS


Written on February 22, 2007 – 7:30 am | by siphe

Aku masih ingat, bagaimana kami berbasah-basahan dalam suatu
got yang lebarnya satu meter, mencari kecebong, menangkapnya dengan jaring.
Begitu sekat-sekat pada jaring menangkap beberapa ekor kecebong, kami
mengamatinya sejenak lalu kami kembalikan pada air keruh di got lagi. Kami sama
sekali tidak jijik pada air keruh itu, begitu pula pada kecebong yang merupakan
anak katak itu. Padahal kalau kecebong itu sudah menjadi dewasa, aku pasti akan
melihatnya jijik, tidak mau menyentuhnya. Dan segera mengusirnya dari hadapanku.

 

Di hadapanku kini pun terdapat seorang teman kecilku dulu, di
mana saat dulu kami sama-sama bermain mencari kecebong, mencari jangkring untuk
mendengarkan bunyinya pada malam hari, atau pun bermain gobag sodor. Kini teman
kecilku sudah menjadi laki-laki dewasa yang membawa seikat bunga mawar untukku
dan sekotak perhiasan emas putih, bahkan sudah berani melamarku, terang-terangan
di hadapan orang tuaku. Sudah menjadi orang sukses yang bisa aku lihat dari
setelannya dan mobil mewah plus supir pribadinya yang dibawanya ke rumahku. Tapi,
untukku dia telah berubah sama halnya dari kecebong menjadi katak dewasa,
bermetamorfosis.

 

Aku sama sekali tidak ada keinginan berdekat-dekat dengannya,
tidak ingin berlama-lama di dekatnya. Memang benar kaya sudah dirinya, berbeda
dengan diriku masih dengan kehidupan stabil seperti dahulu walau pun sudah mampu
bekerja sendiri. Namun aku tidak merasa sampai begitu kekurangannya diriku
sampai-sampai harus menerima lamaran pria yang sudah berubah menjadi budak uang
menghalalkan berbagai cara untuk memuaskan macam-macam keinginannya secara
materi yang tidak ada habisnya.

 

Berbeda dengan diriku, kedua orang tuaku memaksaku untuk
menerima lamarannya. Terlihat dari sikap mereka bahwa mereka sangat kagum pada
Bian, anak tetangga kami  belasan tahun yang lalu yang selalu memakai kaus
singlet jika sedang bermain-main di sekitar rumah kini telah berubah menjadi
orang tingkat atas yang sukses dan bahagia karena banyak duit. Ibuku menagis
ketika aku menolak mentah-mentah lamarannya. Tidak mau berbicara denganku, tidak
mau menemuiku, tidak mau makan dan lain sebagainya yang membuat aku merasa
bersalah sebagai seorang anak yang sepertinya tidak bisa membalas budi.

 

Padahal, kedua  orang tuaku tahu kalau sebelumnya aku sudah
memiliki kekasih-Aryo. Sebelumnya pula kedua orang tuaku membuka pintu lebar
sekali untuk Aryo. Aryo lelaki yang bertanggung jawab, baik, jujur, menarik
secara fisik, dan terlebih sudah bekerja menjadi staff suatu perusahaan swasta,
cukup sempurna untuk jadi suamiku kelak. Itulah tanggapan kedua orangtuaku
sebelum Bian datang dan menurut aku mengganggu hidupku walau menurut orang tuaku
adalah menyempurnakan dan membahagiakan hidupku. Kini telepon dari Aryo pun
langsung diputus, apalagi bila bertemu. Berhasil sudah mereka membuat Aryo
menyerah dan membuatnya mencari perempuan lain untuk diajak berhubungan serius.
Orang tuaku berpendapat bahwa Aryo dan Bian tidak dapat dibandingkan, Aryo kalah
jauh dengan Bian. Ya, betul bila ukuran perbandingannya adalah materi dan
jabatan.

 

Kecewa dengan Aryo dan takut dibilang anak durhaka pun
akhirnya aku menikah dengan Bian. Melihat kedua orang tuaku tersenyum bahagia,
bersorak gembira memamerkan pada saudara-saudarku bahkan yang bisanya tidak
pernah ditelepon, mengundang mereka untuk datang, dan menunjukkan betapa kaya
dan suksesnya menantunya dan betapa beruntungnya anaknya, tapi sekiranya hanya
diriku yang merasa malang nasibnya apalagi melihat Aryo datang dalam pesta
pernikahanku dengan perempuan barunya, menyalamiku, dan memberi selamat dengan
tenangnya.

 

Menghabisnkan malam pertama dengan terpaksa, seolah-olah
seperti kewajiban yang memberatkan, manalagi dengan lelaki yang sudah aku kenal
lama namun sudah berubah jauh sifat dan sikapnya dari yang dahulu aku kenal.
Pasrah, membiarkan dirinya menghabisiku pada malam itu, tanpa balasan dan reaksi
berarti. Toh, dia tahu kalau aku tidak mencintainya. Tapi, tetap saja tiap malam
dia memakanku seperti binatang yang kelaparannya.

 

Tujuh bulan sudah aku terbiasa dengan Bian, lelaki yang
menikahiku karena penasaran denganku dan merasa bahwa aku cinta pertamanya. Tapi
cinta pertama menurutku hanya berlalu begitu saja, seharusnya bukan cinta
pertama yang dia nikahi namun cinta sejatinya. Aku tahu persis itu dan melihat
kebenaran pada kenyataan yang ada pula.

 

Bian memiliki banyak rumah, tapi kini dia memutuskan untuk
membangun satu rumah lagi yang lebih megah dari rumah ini. Sudah aku duga
sebelumnya, dia akan pindah ke rumah yang lebih megah itu dan tinggal bersama
istri mudanya. Aku tidak peduli. Entah wanita itu cinta sejatinya atau bukan,
kalau bukan, Bian mungkin sudah memiliki sepuluh istri untuk sepuluh tahun
kedepan. Ya itu istri, belum lagi kalu dihitung dengan pelacur-pelacur yang
mengerogoti hartanya tiap minggunya.

 

Untung saja waktu tujuh bulan belum bisa membuat aku
benar-benar mencintainya, jadi aku tidak perlu terlalu makan hati melihatnya
menikah dengan perempuan lain. Bukan saat ini aku akan cemburu karena di nomor
duakan atau tidak dapat nafkah biologis, lebih baik aku menyulam atau apapun itu
untuk jabang bayi di perutku yang sedikit mulai membesar ini, memperdengarkannya
dengan music classic, supaya tumbuh menjadi anak cerdas dan pintar, kalau bisa
nanti akan kuajarkan bagaimana menjadi manusia yang berkepribadian supaya tidak
seperti ayahnya yang membuat sengsara banyak orang kecil dan tidak seperti aku
pula yang tidak bisa mempertahankan prinsip dalam hidup.

BUKAN SALAHKU


Written on February 11, 2007 – 1:00 am | by siphe

“Ayah, ayah!”

Teriakan itu membangunkanku dari kegiatan yang aku lakukan sejak tadi. Aku pun segera mematikan kompor dan meletakkan soled pada wajannya. Aku segera melangkahlan kedua kakiku dengan cepat, membuka pintu dan masuk ke dalam sebuah kamar kecil tempat anakku berada. Masih terdengar teriakannya ketika aku memasuki kamarnya.

“Bangun! Bangun! Anisa, bangun!” Aku menggoyang-goyangkan tubuh anakku dengan kasar dan dengan suaraku yang lantang.

Anisa membuka matanya perlahan-lahan, entah melihat ekspresi wajahku dia langsung ketakutan. “Bunda, Bunda, maaf… Maaf, apa Anisa mengigau lagi. Maaf Bunda, Anisa hanya mimpi. Maaf, Bunda…”,segera duduk tubuhnya pun ke arah papan tempat tidurnya menjauh dariku yang sedang berdiri di samping tempat tidurnya. Suaranya pun gemetaran. Wajahnya seperti melihat dewa kematian, matanya kadang terlihat menutup seperti sudah bersiap bila ada yang mencabut nyawanya.

Melihatnya begitu pun, aku hanya menjewer telinganya sampai dia merengek kesakitan dan memohon ampun padaku. Telinganya pun memerah. Biasanya aku tidak segan-segan menampar pipinya, menyiramnya dengan air atau dengan sulak atau sapu lidi aku biasa memukulnya, bahkan kadang aku membuatnya jera dengan mengurungnya dalam kamar mandi berjam-jam. “Bunda kan sudah bilang berkali-kali! Jangan sebut-sebut yang Bunda ga mau denger walau cuma di dalam mimpi! Kamu cuma punya Bunda! Ayahmu sudah Bunda anggap mati, tau ga sih dia bajingan! Coba, dulu kamu mengenalnya saat kamu sudah bisa berpikir! Dia brengsek tau!” teriakku keras memekakkan telinganya.

“Capek Bunda sama kamu! Bangun sana, mandi! Jangan tidur terus! Bisa-bisa kamu mimpiin orang ga berguna itu lagi! Bantu Bunda di dapur kalo udah mandi.” Setelah melihat anggukan kecilnya aku pun segera keluar dari kamarnya.

Aku singgah ke kamarku dan terduduk lemas di tepi kasur. Aku heran mengapa pula anakku selalu memimpikan ayahnya ketika tidur Lagi-lagi aku tersadar bahwa tanpa kendali aku telah menyiksa anakku lagi. Entah ibu macam apa aku ini. Tapi, aku benar, aku tidak salah!. Ini semua salah ayahmu, Nak! Dia meninggalkanku dengan wanita lain, meninggalkanku di kontrakan ini. Meninggalkanku dengan hanya uang sepuluh ribu di tanganku. Meninggalkanmu pula yang masih berumur tiga tahun.

Bukankah seharusnya kamu menghargai pengorbanan ibumu yang membesarkanmu sendirian hanya dengan tidak menyebut-nyebut ayahmu? Apakah kamu tau bagaimana perjuangan ibumu ini? Untuk membayar kontrakan rumah pun, ibu harus membayar dengan tubuh ibu hampir tiap malam kepada pemilik rumah. Untuk memenuhi kebutuhan kita, ibu harus meminjam uang pada lintah darat dengan bunga yang tinggi. Tak jarang ibu menerima pukulan, atau membiarkan barang-barang yang tidak berharga pun ikut disita karena ibu tak mampu membayar utang.

Tapi kini dengan perjuangan keras ibu, ibu tidak perlu lagi membayar kontrakan dengan tubuh dan ibu tidak perlu lagi meminjam uang. Ibu sudah bisa menghidupi kamu walau tidak mewah dengan toko klontong, warung makan, dan gorengan di kontrakan ini tanpa mengenal lelah. Ini semua demi kamu.

Maafkan ibu, Nak. Ibu bukannya mau menjahati atau menyiksa kamu, ibu hanya ingin kamu tidak mengingat-ingat ayahmu itu. Dia sudah membuat ibu dan kamu susah. Tenang saja, Nak. Di ulang tahunmu yang ke sebelas nanti ibu akan membuatmu senang, ibu akan belikan baju yang kamu inginkan sejak kemarin walau kamu tidak bilang padaku kamu menginginkannya, tapi ibu tau dari matamu saat melihat baju di toko yang kita lewati saat hendak ke pasar. Ibu sayang kamu, Anisa.

Pikiranku lelah, lebih baik aku berbaring dulu di tempat tidur sebentar sebelum melanjutkan kerjaanku. Aku menghempaskan tubuhku pada kasur dan tertidur sejenak tanpa sadar.

***

Airnya terasa dingin. Benar-benar dingin. Rasanya tubuhku hampir membeku. Namun tetap saja rasa panas dan sakit di daun telingaku masih sangat terasa. Aku pun segera melepaskan handuk dan memakai baju bersih yang sudah cukup kumal setelah selesai dari kamar mandi.

Aku segera ke dapur setelah menyisir rambutku. Kosong. Aku pun melangkah ke arah kompor, menyalakannya, mengambil solednya. Bunda sepertinya tadi sedang menggoreng tahu isi sebelum Bunda ke kamarku dan membangunkanku. Masih baru. Belum cukup matang. Masih harus menunggu.

Apa Bunda sedang di kamarnya? Aku pun ke arah kamarnya, pintunya terbuka. Aku bersandar di tembok sebelah pintu sambil melihat wanita yang telah melahirkanku tertidur. Bunda selalu begitu. Tertidur pulas setelah bisa menyakitiku. Memangnya apa salahku? Bukankah wajar bila seorang anak mengingat ayahnya. Atau itu hanya alasan Bunda saja? Atau aku memang tidak diinginkan, atau aku menyusahkanmu? Bukannya selama ini aku sudah berusaha jadi anak yang baik? Aku tidak pernah meminta macam-macam pada bunda. Aku tidak pernah minta dibelikan baju yang aku sukai di toko itu, padahal anak lainnya pasti akan segera merengek dan menagis bila tidak dibelikan. Aku juga selalu membela bunda ketika ibu-ibu di kampung membicarakan hal jelek tentang bunda. Aku juga tidak malu menampakkan bekas merah tamparan atau pukulanmu pada teman-temanku karena aku pikir itulah tanda kasih sayangmu.

Tapi, sekarang aku makin ragu, bunda. Bunda setiap hari menyakitiku, menyiksaku. Bunda pasti tidak menyayangiku. Aku tidak kuat lagi bunda, bahkan air mataku pun sudah mengering, entah mungkin sudah habis karena sudah lelah tiap hari aku menangis karenamu. Maafkan aku bunda, tapi ini bukan salahku, ini semua salah bunda.

Aku pun berjingkat kecil ke arah meja kaca dan memungut dompet di atas meja itu. Aku pun mengambil tiga per empat bagiannya dan memasukannya dalam saku celanaku. Kembali berjingkat aku keluar dari kamar dan mengambil tas kecil satu-satunya yang aku punya dan memasukan satu pasang baju yang paling bagus di antara yang lainnya.

Pelan-pelan pun aku keluar dari rumah, memandang ke arah rumah sebentar, kemudian aku pun berjalan cepat keluar rumah. Sedikit aku ketakutan. Tapi aku juga tidak mau ketakutan setiap hari di dalam rumah.

Bunda, aku memang bukan anak berbakti, tapi bundalah penyebabnya. Aku akan pergi mencari ayah. Ayah pasti merindukanku. Mungkin ayah juga mempunyai alasan yang sama denganku hingga sampai saat ini pula aku tidak bisa bertemu dengannya.

Ayah aku akan mencarimu. Aku pasti menemukanmu, aku punya fotomu, aku selalu mengingatmu walau tanpa sepengetahuan bunda.

Tak terasa, sepertinya dua jam lebih aku berjalan. Aku bingung harus kemana. Sudah hampir gelap. Sudah aku gunakan sebagian uangku untuk membeli roti dan minum. Ternyata bukan hal yang mudah mencari ayah untuk anak kecil seperti aku. Tiap orang yang kutemui mengatakan tidak pernah melihat ayahku. Aku menjadi ragu untuk terus mencari. Aku tidak bisa begini terus, aku tidak punya tempat tinggal.

Baiklah, aku harus kembali ke rumah. Walau mungkin bunda sudah menungguku untuk memukulku atau mengurungku atau mungkin saja aku bisa dibunuhnya kali ini. Aku memang takut. Tapi aku hanya punya uang lima belas ribu rupiah di tangan.

Kembali aku berjalan lunglai ke arah rumah dengan tetap menyimpan harapan menemukan ayahku di perjalanan pulang. Nihil. Sebentar lagi aku pasti sampai rumah, ini sudah melewati rumah Pak Dul yang jaraknya lima belas rumah dari rumahku. Aku berhenti sejenak. Aku takut. Aku bimbang.

“Anisa, Anisa! Kamu dari mana?” Tiba-tiba Pak Dul datang sambil memegangi pundakku, wajahnya terlihat cemas dan berkeringat. Aku pun kaget dan bingung. Jangan-jangan bunda kasih tau orang sekampung kalau aku kabur dan mencuri uang bunda.

“Anisa, rumahmu, Anisa! Rumahmu kebakaran! Ibumu, Anisa. Ibumu masih di dalam!” serunya cemas. Mataku menatap air muka Pak Dul berharap dia sedang berbohong atau mengerjai aku. Masih tidak percaya namun aku pun harus percaya melihat ember penuh air di sampingnya. “Ibumu sepertinya uda ga bakal tertolong, Nak!” Aku terpana dan baru sadar bahwa orang-orang di sekitarku berlarian dengan ember dan kain-kain kumal tebal untuk memadamkan api.

Aku bingung, aku pusing, aku kehilangan pikiranku untuk sementara dan terdiam sebentar sebelum memutuskan untuk berlari ke arah rumah. Tunggu, apa ini salahku? Aku ingat kompor pun belum sempat aku matikan saat tadi aku pergi. Bunda! Bunda! Apa aku yang membunuhmu? Atau mungkinkah ini memang sudah takdir dan nasibmu sebagai balasan kamu melukaiku tiap hari? Ini bukan salahku, aku bukan pembunuh pula, aku tidak sengaja, ini takdirmu! Ini takdirmu karena dosamu padaku! Tapi Bunda, bukan seperti ini mauku! Bunda, jangan pergi dulu!

BULAN YANG DINGIN


Written on February 11, 2007 – 12:56 am | by siphe

Bulan-bulan seperti ini memang selalu terasa dingin, walau air hujan sudah mengering dan tanah tidak terlihat basah lagi seperti beberapa jam yang lalu, namun aku tetap harus memeluk erat kedua lenganku untuk melindungi diriku dari udara yang bisa mengalahkan niatku untuk keluar dari rumah, tempat perlindunganku. Pasti lebih menyenangkan berada tetap pada kasur yang walaupun tidak empuk sekalipun namun bisa memberi sedikit kehangatan dengan di bawah selimut yang walau tidak tebal pula menutupi tubuhku serta telapak kakiku yang kedinginan.

Namun saat ini aku berdiri, bukan di dalam rumah atau pun di luar rumah, namun aku berdiri di dalam sebuah gedung. Gedung yang tidak kalah dinginnya seperti dingin ketika aku berkendara motor setelah hujan baru reda, gedung yang menggunakan air conditioner pada setiap dindingnya yang tiap-tiap jaraknya hanya sampai lima meter saja. Mungkin tidak akan sedingin ini bila aku memasukinya bukan pada bulan dengan cuaca sedingin ini.

Sedikit aku merasa hangat karena aku tidak sendiri. Aku bersama teman-teman yang aku kenal baik. Bersapa, berbincang, dan bertanya kabar masing-masing.Walau begitu aku masih merasa aneh dan bagai mimpi aku berada di gedung ini dengan sepatu hak tinggi, pakaian yang minim dan tidak tebal, serta dandanku yang berbeda dari hari-hari biasanya. Merasa bingung pula mengapa aku datang ke tempat ini.

Pemandangan di depanku selalu mengusik untuk dilihat dan membuatku penasaran. Aku mengenal salah satu di antara mereka. Ah, ekspresi itu lagi. Ekspresi bahagia dan gembira yang menurutku terlalu berlebihan. Dengan warna yang sama yaitu ungu, mereka tertawa, tersenyum, memperlihatkan sinar kebahagian mereka dengan wajah dan gerak-geriknya. Mereka memang berjodoh, buktinya mereka bisa melaksanakan resepsi semewah ini setelah melaksanakan akad nikah di masjid beberapa jam yang lalu.

Mungkin bila aku sedang wisuda atau bekerja di pulau yang berbeda adalah alasan yang tepat kalau aku tidak datang. Seperti alasan Intan Nuraini ketika ditanya wartawan mengapa tidak datang ke pesta perkawinan Syahrul Gunawan, mantan kekasihnya. Tapi, aku sudah lulus dari kuliahku dan menjadi pengangguran yang tidak bekerja di mana pun. Walau sebenarnya aku memang tidak harus datang, toh sudah beberapa bulan ini aku sama sekali tidak saling menanyakan kabar pada pria di atas pelaminan itu, bahkan ketika kami tidak sengaja bertemu pun dia hanya menyapaku seadanya dan setelah itu dia menganggapku tidak ada di satu tempat yang sama.

Aku bediri di gedung besar ini dan membiarkan udara menyentuh tubuhku dengan bebas hingga membuat badanku menggigil bukan sekedar untuk memperlihatkan padanya dan teman-temanku bahwa aku menerima kenyataan kini dia sudah menjadi milik orang lain, namun aku juga ingin melihat wajah bahagia dari pria yang pernah mewarnai hari-hariku selama tiga tahun ini sebelum kami memutuskan untuk berpisah. Aku ingin pula ikut berbahagia dengan melihat senyumnya merekah dengan pernikahan yang membuatnya lepas dari masa lajangnya, walau aku datang ke sini tanpa menggandeng atau menggenggam tangan pria lain yang mungkin saja dapat membuatku tidak merasakan dingin seperti sekarang.

“Ratna!”

Aku tersentak dari bermacam pikiranku. Dewi, teman di sebelahku berkata, “Hey, jangan diam saja. Ayo kita makan. Aku udah laper. Kamu juga kan? Yuk!” Tanpa menunggu jawabanku, tangannya pun segera menarik tanganku menuju tempat-tempat makanan yang dipenuhi tamu lainnya yang juga aku kenal beberapa di antaranya. Aku pun baru sadar kalau aku juga lapar karena udara dingin saat ini sungguh meningkatkan napsuku untuk segera makan dan mencicipi bermacam-macam jenis makanan yang tak kalah mewahnya dengan resepsi ini.